BRIN Ajak 57 Finalis IRIFair Kunjungi Fasilitas Riset Di Kawasan Sains Dan Teknologi Soekarno

Mar 08, 2025 by Gelar Gilang Ginanjar


Cibinong – Humas BRIN. Sebanyak 57 finalis Indonesia Research and Innovation Fair (IRIFair) yang berasal dari berbagai kampus di Indonesia diajak berkunjung ke beberapa fasilitas riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Mereka para finalis mengunjungi Gedung Keanekaragaman Hayati (KEHATI), Animalium, dan Ecopark di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, pada Sabtu (10/08). Kunjungan tersebut merupakan bagian dari acara kompetisi IRIFair yang menjadi rangkaian kegiatan Indonesia Research and Innovation Expo (INARI Expo) 2024 di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Bogor.

Penanggung jawab Kompetisi IRIFair Donna Revilia dari Direktorat Manajemen Talenta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan, kunjungan ini merupakan rangkaian kegiatan kompetisi yang dirancang untuk menjaring talenta-talenta potensial di bidang riset dan inovasi mulai dari jenjang sarjana hingga magister. “Tujuan kunjungan ini memperkenalkan Kawasan Sains BRIN di Cibinong dan memperkenalkan wisata ekologi dan zoologinya,” tuturnya.

Peserta IRIFair berasal dari seantero penjuru negeri mulai dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I. Yogyakarta, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, hingga Sulawesi Tenggara. IRIFair merupakan salah satu ajang penghargaan kompetitif di bawah Direktorat Manajemen Talenta, Kedeputian Bidang Sumber Daya Manusia Iptek, (BRIN).

Dalam kunjungannya ke Gedung Keanekaragaman Hayati (Kehati) beberapa tempat yang dikunjungi, yaitu Herbarium Bogoriense (HB), Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) dan Arkeologi. Di koleksi Arkeologi peserta dapat melihat koleksi benda-benda peninggalan hasil kebudayaan masa lalu yang bernilai tinggi dalam pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta mempunyai nilai penting bagi “Sejarah Peradaban Nusantara”. Koleksi yang tersimpan terdiri dari artefak dan ekofak yang ditemukan dari berbagai lokasi/situs yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

“Estimasi jumlah spesimen koleksi Arkeologi sampai dengan Agustus 2024 sebanyak 431.851 yang mayoritas berbentuk fragmentaris. Jumlah koleksi masih akan terus bertambah seiring dengan kegiatan migrasi dan integrasi koleksi yang sedang berlangsung. Jenis koleksi yang tersimpan berupa koleksi realia, replika dan beberapa koleksi referensi. Jenis koleksi yang ada berasal dari bahan organik/hayati seperti tulang, kerangka, tengkorak, cangkang, kayu, buah/biji, dan lain-lain,” terang Dimas Ardiyanto selaku Koordinator Koleksi Arkeologi Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN.

“Sedangkan dari bahan anorganik/non hayati berupa tembikar, keramik, batu, kaca, logam, fosil, dan lain-lain. Aspek fungsi/kegunaan dari koleksi yang tersimpan dapat berupa alat rumah tangga, alat peribadatan/upacara, senjata, aksesoris/perhiasan, alat transaksi, alat penguburan, bekal kubur, ornamen/hiasan, manuskrip, dan lain-lain,” tambahnya.

Lebih lanjut Dimas menjelaskan bahwa unit kerja Koleksi Arkeologi DPKI bertujuan untuk penyelamatan dan penyimpanan objek riset berupa benda-benda warisan budaya dengan standar dan peralatan yang memadai agar dapat memberikan layanan riset bagi pengguna baik dalam dan luar negeri. Layanan riset yang diberikan berupa kegiatan penelitian, mahasiswa magang, dan kunjungan ilmiah.

Sementara itu, Steven, mahasiswa Universitas Indonesia mengatakan Gedung KEHATI penuh dengan artefak yang menarik, terutama pada bagian arkeologinya. Koleksinya cukup lengkap mulai dari manusia purba, hewan, tumbuhan, artepak tembikar dan lain sebagainya.

“Saya melihat gedung ini penyimpanannya juga baik sekali karena terkondisi dengan baik, suhu ruangannya dingin jadi nyaman untuk berjalan-jalan di dalamnya. Manfaatnya untuk saya adalah saya belajar sejarah, bahwa untuk memiliki sejarah sendiri memiliki tantangannya masing-masing, mulai dari processing pengambilan artefaknya sampai ketika membawa ke dalam lokasi penyimpanannya. Kemudian dedikasi untuk mencari tahu jawabannya apa dari arkeolog yang ditemukan seperti apa. Bagi saya hal ini memberikan insight yang baru sebagai peneliti masa kini,” ungkap Steven.

Di Herbarium Bogoriense (HB), para peserta diajak untuk mempelajari tanaman yang diawetkan dalam bentuk kering atau basah. Saat ini HB telah mengumpulkan 950 ribu specimen. Jenis specimen ini meliputi tumbuhan berbiji belah, tumbuhan berkeping biji Tunggal, tumbuhan berbiji terbuka, fungi, alga, tumbuhan paku, lumut kerak, lumut hati, dan lumut daun. Selain bunga Raffles, ada lebih dari 40 spesies tanaman langka di Nusantara yang dikoleksi HB. Koleksi paling tua yang disimpan dalam HB ialah spesimen paku kering bernama latin Asplerium caudatum.

Selanjutnya para peserta mengunjungi Museum Zoologi Bogoriense (MZB), untuk mengetahui koleksi satwa yang diawetkan. Museum ini menyimpan lebih dari 2,8 juta spesimen ilmiah dari berbagai spesies yang dikoleksi sejak didirikan oleh Dr. J.C Koningsberger pada tahun 1894. MZB merupakan museum rujukan penting dalam koleksi spesimen ilmiah satwa di regional Asia Tenggara. Koleksi spesimen MZB dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu mamalia, burung, ikan, reptil, amfibi, moluska, krustasea, serangga, serta invertebrata.

Aqsa Aufa Syauqi Sadana dari Universitas Diponegoro mengungkapkan kegembiraannya setelah berkunjung dari Gedung KEHATI BRIN. “Tentu kita jadi dapat mengetahui koleksi-Koleksi dari BRIN, sehingga menjadi sebuah ilmu baru dan insight baru. Jadi seneng bisa melihat koleksi-koleksi dari BRIN,” katanya.

Selanjutnya kunjungan dilanjutkan ke fasilitas Edutainment, Animalium dan Ecopark yaitu Kebun Raya atau kawasan konservasi tumbuhan secara ex-situ yang memiliki koleksi tumbuhan terdokumentasi dan ditata berdasarkan pola klasifikasi taksonomi, bioregion, tematik, atau kombinasi dari pola-pola tersebut untuk tujuan kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata dan jasa lingkungan.

Di Kebun Raya Cibinong, peserta dapat melihat Danau Dora, yaitu danau buatan yang ikonik dan cukup terkenal di Cibinong dan menjadi badan air terbesar di KR Cibinong dengan tanaman teratai di permukaan airnya. Ada juga Danau Dori yang berada di area belakang Danau Dora. Selain itu, terdapat Rumah Kaca Biodiversitas yang akan menampung beragam tumbuhan dari bioregion Indonesia khususnya yang membutuhkan penyesuaian iklim dan habitat sesuai tempat tumbuh aslinya. (nurm,ttgr,ery/ed.sl,pur)